Senja
Dipelosok hati
Part
2
Masih
bersama sang waktu melewati duri mawar
yang semakin dalam. Pernah aku kabarkan pada sang angin” aku
merindukannya” bisik pelan nan manja. Senja yang terkenal anggun masih sibuk
dengan dirinya, mungkin belum selesai menata hati dan jiwanya. Dia akan pergi
keperaduan yang membuatnya terluka, membuatnya harus meneteskan mutiara cantik
yang menggenang disudut hatinya. Namun, senja dengan anggunya mempoles senyum
menawan yang akan memikat rembulan untuk yang kesekian kalinya.
“bukan senja namanya jika tak
memikat” lirih awan yang akan membanya pergi, entah kemana. Meninggalkan pekarangan
sore dengan cerita romantis yang ditulisnya.
“dan bukan senja namanya jika tak
menawan” bisik pelangi yang mengintip diserpihan siluet jingga itu.
“ah.. aku selalu menunggunya, hingga
ku beranikan diri meminjam kuas warna pada pelangi, sungguh indah. Aku mengaguminya”sang
bayu tak mau kalah dalam bersua bersama alam yang memuji senja.
Bukan waktu namanya jika dia tidak membuat
hati Senja bersedir sayu, selalu membolak balik hati yang tangguh. Menerobos masuk
dan merayu bunga jingga untuk menerim sarannya. Karena sang waktu tahu
segalanya, tahu dimana ketika senja tertawa dalam sudut hati yang kosong, tahu
dimana senja tersenyum anggun dalam dunia kepedihan.
“ kalian memujinya, layaknya senja bidadari
pertama yang menyelimuti dirinya dengan seluruh warna pelangi. Membungkus dirinya
dengan daraian kabut surgawi. Namun, apa kalian tahu, senja adalah gadis kecil
yang memperjuangkan cintanya dalam keanggunan jingganya. Bersama diam dia lukis
kemilau rindu yang menggenang. Bersama lara dia merangkai cinta untuk fajar
yang tak kunjung datang. Hanya setitik asa yang dia punya dalam sudut hati
emasnya. Namun, sejuta kegembiraan ia berikan pada alam. Bukan pada dirinya.” Ucap
sang waktu yang gusar hatinya melihat kegundahan senja.
“ dan kalian tahu, bagaimana caranya
mempersatukan Senja dan Fajar?” waktu terus bertanya namun tiada jawaban dari
mulut-mulut indah mereka. Bisu, pertanyaan yang tidak akan pernah ada
jawabannya. Pertanyan konyol yang meggusarkan hatinya. Waktu melontarkan pertanyyan aneh pada mereka yang
bergumam tentang keanggunan.
“ kalian tahu, biar tuhan yang mempersatukan
mereka. Melalui jemari zatnya, dan sayair ini untuk kalian. ku temukan
tergeletak dalam hati senja” waktu tak lagi mencoba mencarikan jalan untuk
senja. Cukup sampai disinya tukasnya.
Jika
ku mulai mengenangmu aku takut langit cemburu
Aku
ingin bermadu bersamamu
Aku
ingin berjalan denganmu
Aku
ingin kau mengusap mutiara dimataku
Menggantikan
dengan embun suci yang kau rangkai itu
Namun,
aku takut awan cemburu
Aku
terbangun dalam sepertiga waktu-NYA
Memohon
keanggunan kepada-NYA
Meminta
keelokan kepada-NYA
Namun,
aku tak sanggup mengucap namamu didepan-NYA
Jika
diri ini berkilau merah, ku melihat wajahmu
Namun,
aku terlalu naif untuk menyapamu
Karena
aku tidak mau Tuhan berhenti menyapaku
Kuputuskan
agar rindu ini tersimpan di hatiku
Dalam
bingkai emas berlapis hati terdalam
Dan
kuputuskan untuk berdiam
Menunggu
kau bermanja dengan ku untuk menguak isi hati
Mungkinkah
itu??
Kapan
tibanya?
Entahlah.



