Sabtu, 16 Mei 2015

Senja Dipelosok hati Part 2

Senja Dipelosok hati
Part 2
Masih bersama sang waktu melewati duri mawar  yang semakin dalam. Pernah aku kabarkan pada sang angin” aku merindukannya” bisik pelan nan manja. Senja yang terkenal anggun masih sibuk dengan dirinya, mungkin belum selesai menata hati dan jiwanya. Dia akan pergi keperaduan yang membuatnya terluka, membuatnya harus meneteskan mutiara cantik yang menggenang disudut hatinya. Namun, senja dengan anggunya mempoles senyum menawan yang akan memikat rembulan untuk yang kesekian kalinya.
            “bukan senja namanya jika tak memikat” lirih awan yang akan membanya pergi, entah kemana. Meninggalkan pekarangan sore dengan cerita romantis yang ditulisnya.
            “dan bukan senja namanya jika tak menawan” bisik pelangi yang mengintip diserpihan siluet jingga itu.
            “ah.. aku selalu menunggunya, hingga ku beranikan diri meminjam kuas warna pada pelangi, sungguh indah. Aku mengaguminya”sang bayu tak mau kalah dalam bersua bersama alam yang memuji senja.
            Bukan waktu namanya jika dia tidak membuat hati Senja bersedir sayu, selalu membolak balik hati yang tangguh. Menerobos masuk dan merayu bunga jingga untuk menerim sarannya. Karena sang waktu tahu segalanya, tahu dimana ketika senja tertawa dalam sudut hati yang kosong, tahu dimana senja tersenyum anggun dalam dunia kepedihan.
            “ kalian memujinya, layaknya senja bidadari pertama yang menyelimuti dirinya dengan seluruh warna pelangi. Membungkus dirinya dengan daraian kabut surgawi. Namun, apa kalian tahu, senja adalah gadis kecil yang memperjuangkan cintanya dalam keanggunan jingganya. Bersama diam dia lukis kemilau rindu yang menggenang. Bersama lara dia merangkai cinta untuk fajar yang tak kunjung datang. Hanya setitik asa yang dia punya dalam sudut hati emasnya. Namun, sejuta kegembiraan ia berikan pada alam. Bukan pada dirinya.” Ucap sang waktu yang gusar hatinya melihat kegundahan senja.
            “ dan kalian tahu, bagaimana caranya mempersatukan Senja dan Fajar?” waktu terus bertanya namun tiada jawaban dari mulut-mulut indah mereka. Bisu, pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabannya. Pertanyan konyol yang meggusarkan hatinya. Waktu  melontarkan pertanyyan aneh pada mereka yang bergumam tentang keanggunan.
            “ kalian tahu, biar tuhan yang mempersatukan mereka. Melalui jemari zatnya, dan sayair ini untuk kalian. ku temukan tergeletak dalam hati senja” waktu tak lagi mencoba mencarikan jalan untuk senja. Cukup sampai disinya tukasnya.
Jika ku mulai mengenangmu aku takut langit cemburu
Aku ingin bermadu bersamamu
Aku ingin berjalan denganmu
Aku ingin kau mengusap mutiara dimataku
Menggantikan dengan embun suci yang kau rangkai itu
Namun, aku takut awan cemburu
Aku terbangun dalam sepertiga waktu-NYA
Memohon keanggunan kepada-NYA
Meminta keelokan kepada-NYA
Namun, aku tak sanggup mengucap namamu didepan-NYA
Jika diri ini berkilau merah, ku melihat wajahmu
Namun, aku terlalu naif untuk menyapamu
Karena aku tidak mau Tuhan berhenti menyapaku
Kuputuskan agar rindu ini tersimpan di hatiku
Dalam bingkai emas berlapis hati terdalam
Dan kuputuskan untuk berdiam
Menunggu kau bermanja dengan ku untuk menguak isi hati
Mungkinkah itu??
Kapan tibanya?
Entahlah.


Minggu, 10 Mei 2015

Senja dipelosok hati

https://plus.google.com/u/0/109841183586372820366/posts

                Saat itu senja menguntai indah mengayunkan sayapnya menjadi pesona sore hari. Langit semakin pekat begitu pula senja, hanya siluet kehidupan yang akan kembali berputar. Senja kembali mewarnai dirinya untuk kuasan keseratus kali supaya terlihat anggun dan menawan. Namun, keanggunan itu tertutup dengan jingga merah yang semakin memudar. Menerawang hingga senja jatuh memeluk bumi.
            “ kedengarannya sayup bayu mulai tak mengusik, kemana gerangan?” bisik senja ditengah haru biru yang akan membawanya pergi.
            “ aku merajut tiupanku agar menjadi indah sepertimu, aku berhenti menghela langkah sejenak tuk berfikir bagaimana kau mempoles sayap-sayapmu” bisik parau angin sepoi yang membuatnya terkejut.
            Berdalih hati yang penasaran senja merebahkan dirinya, diujung pegunungan dengan mata merona menyaksikan sang bayu mempoles diri. Dibalik tumpukan bukit yang mencakar langit. Dia Mempercantik tiupannya, mempoles perlahan dengan warna yang dipinjamnya dari pelangi, namun nihil. Bayu akan selamanya tak terlihat. Hanya perasaan yang damai dan sendu yang dapat melihatnya. Itupun hanya sekilah. Dan sang bayu akan terlihat seperti angin topan ketika sutradara alam menghendaki dan memainkan hati dan jiwanya
            Warna jingga dengan kesenduhaanya kembali kepekarangan, mengabdi dengan anggun untuk menuai tugasnya. Namun wajahnya masih sayu, masih berfikir keras dibalik kedamaian warna jingganya. Bukan angin yang membuatnya kawatir karena gagal mempoles seperti dirinya. Entahlah mungkin sejuta makluk tuhan yang membuat siluet jingga itu berdiam diri.
            “ jika Fajar menungguku untuk datang memeluknya, menyapa dengan senyum merekah. Lebih baik aku diam perlahan diam, bukan sembunyi. Namun berdoa agar Fajar cepat menyapa merangkai embun dimata dan tersenyum untuk mereka” ah, ternyata titik temu Fajar yang mengembunkan mutiara dimatanya.
            Bertanya kembali apa benar Senja menanti fajar? Menunggu dengan lilitan rayuan rembulan yang membuatnya terpesona. Hingga pada suatu saat embun yang siap menguntai terhalang Fajar yang bimbang. Rembulan begitu terang dibandingkan dengan Fajar. Menbuat Senja berhati-hati ketika meninggalkan pekarangan jingganya. Takut, akan rayuan bulan yang membuat hatinya bergetar sama ketika senja menebut fajar dalam hatinya. Getaran yang tak terkalahkan dari dentuman jarum jam.
            Setiap detiknya senja memendam kekawatiran akan hatinya, akan ujung rasa yang mencap indah. Takut terjatuh dan bukan Fajar yang mengusap darah disayap jingganya. Tkut, jika nanti Senja ditanya oleh sang waktu. Kenapa menunggu Fajar terlalu lama, sedangkan ada Rembulan yang begitu indah, begitu mempesona hingga bintang geintang ingin mendekapnya. Namun, kau Senja kenapa menunggu Fajar yang belum tentu kau tahu rupanya, belum tahu kedatangannya dan tidak akan pernah tahu itu kapan. Karena kalian berbeda. Untaian nasehat dari waktu yang Senja ingat beberapa waktu ketika senja tertidur ditemani rembulan. Namun waktu membuat mutiara yang mengendap dikelopak mata Senja mengering. Menimbulkan goncangan pada hati yang berdesir yang tak lagi indah kembali mempesona.
            “karena aku menyukainya entah apa alasanya. Mungkin karena Fajar terlalu sopan, menunggu dengan sabar ketika bidadari mempoles warna hitam langit. Dia begitu piawai merangkai embun dan sangat sederhana. Namun, entahlah aku apa yang membuatku cinya aku menginginkanya” sahutnya dengan senyum diujung lesung manisnya

            “ aku akan menunggunya” tukasnya kembali.

Jumat, 08 Mei 2015

dimana pendidikan

Andai
Sepintas memandang terjal jalalan liku
Kembali teringat wajah lusuh
Aku dan saya kembali besua
Berbincang dengan senja mengenang dia
Wajah layu penuh haru
Memandang tembok besar penuh kayu
Disana mata elang menerawang tajam
Andai ada kursi untuk belajar
Si lusuh akan berjuang
Dengan pena ditangan dan luka yang masing menggenang
Dia berkata “ andai aku punya uang kan ku beli toga kelabu itu “


https://plus.google.com/u/0/

Kamis, 07 Mei 2015

Mahasiswa: rakyat

Seperti serdadu yang dikomando
Seperti para buru yang menunggu
Jiwanya tak berkudus, dulu..
Kini, kau raga dan fikirmu maraja
Selendang sarjana hanya sebatas doa
Kaum hedonis lahir menghadap dunia
Kapitalis menguasai jiwa bangsa
Lalu, jiwa siapa yang merdeka
Seruan serdadu bersenjata bercampur upah
Seruan agama berselimut doa
Lalu, siapa yang akan terpenjara
Wahai para sarjana-sarjana muda?
                Jiwa mu telah muda
                Mata rakyat memandang kau terhormat
                Siapkan senjata advokasi rakyat
                Kaulah, pelopor-pelopor jiwa sesungguhnya
Bukan lagi duduk manis, memandang layar monitor
Bukan lagi duduk seolah sahaja mendengar berita
Kau, jiwa muda penggerak dunia

Lipat ijasahmu, langkahkan kakimu, rakyat menunggumu

Pohon

Terjerat 1000 pohon
“ mama...” teriakku dalam mobil yang membawaku pulang kerumah setelah seharian dikampus.
“ eh kamu ini kenapa sih teriak aja, keluar dulu dari mobil salam dulu gitu, teriak-teriak kenapa sih” mama ku tidak mau kalah dengan ku, dengan teriakan yang menggetarkan ban mobilku mungkin.
“ mama..mama..mama.. “ setelah keluar dari mobil teriaku kembali mengangetkan bundaku tersayang.
“kamu kenapa sih sell..” mama bertanya dengan heran.
 “ kok knapa ? mama yang kenapa itu kenapa banyak bibit pohon diteras kan jadinya mobilku gak bisa masuk”. Dengan nada kesal ku berlalu meninggalkan mama menuju kamar ku.
“ kok kamu kaget itukan buat asesoris resepsi pernikahan kamu lusa. Kan Tedi yang pesen katanya kamu setuju” mama menhentikan ku dan aku mulai sadar
 “ astaga mama. Selli lupa.”.
***
Pelupa adalah penyakit yang tidak bisa aku hilangkan, untung saja senja dan fajar datangnya tidak sama bisa jadi aku lupa mana yang senja mana yang farar.
 “ beb makan yuk “ ajak tedi tunanganku. Kami menjalin hubungan baru 2 bulan tapi orang tua kami memutuskan agar kami menikah. Sama-sama pengambil jururan Biologi murni dikampus yang sama dan dikelas yang sama.
 “ kamu makan dulu dah aku mau ke arboretum, lihat bibit bohon yang bagus besok ada yang mau ambil untuk penanaman sejuta pohon” jawabku dengan melangkah meninggalkanya, begitulah kami berhubungan dan berkenalan dengan sama mencintai lingkungan menurutku itu hal yang bagus.
“ oke dah jangan capek-capek nanti sakit baru dah nanti kambuh manjanya” candanya dengn melambaikan tangan padaku. Dia adalah orang ke 2 setelah mama yang kawatir banget dengan kondisiku kesehatanku. Aku kembali dengan aktifitasku memerikasa berjuta pohon yang aku banggakan setidakknya bumi akan tersenyum dengan penanaman ini.
“ mbk selli ya?” suara parau itu mengagetkan lamunanku.
“ iya, dengan ibu ida untuk penanaman sejuta pohon?” tanya ku kembali.
“ iya mbk.”.
“ oh ini buk uangnya bisa dtranfer barangnya bisa dawa besok” tukasku engan membubuhkan sedikit senyum.
***
22 April 2014 hari dimana aku menjadi seorang istri dan menjadi setitik senjum untuk bumiku.
“ beb, asesorisnya udadibungkus rapi kan? Tanahnya jangan sampai tumpah lo” tedi mengingakan kembali asesoris pernikahan kami yang berupa bibit tanaman.
 “ beres kok semua” aku tersenyum bahagia melihat senyumanya. Yah hari itupun tiba para tamu berdatangan dengan kadonya tidak kalah teman-teman angkatan Biologi dikampus datang dengan semarak candanya. Kami tersenyum bahagia meskipun tidak tahu akan menjadi apa bibit muda yang akan melindungi bumi itu jika sampai dirumah mereka. Yang kami tahu mereka membawanya dengan hati-hati dan senyum bahagia.
“Selamat jalan pohon kecilku lindungi bumiku” mungkin itu doa singkat kami Selli dan Tedi yang berbahadia dengan senyuman bumi dihatinya”


Kesunyian, 01 02 2014
https://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=idhttps://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=id