Minggu, 10 Mei 2015

Senja dipelosok hati

https://plus.google.com/u/0/109841183586372820366/posts

                Saat itu senja menguntai indah mengayunkan sayapnya menjadi pesona sore hari. Langit semakin pekat begitu pula senja, hanya siluet kehidupan yang akan kembali berputar. Senja kembali mewarnai dirinya untuk kuasan keseratus kali supaya terlihat anggun dan menawan. Namun, keanggunan itu tertutup dengan jingga merah yang semakin memudar. Menerawang hingga senja jatuh memeluk bumi.
            “ kedengarannya sayup bayu mulai tak mengusik, kemana gerangan?” bisik senja ditengah haru biru yang akan membawanya pergi.
            “ aku merajut tiupanku agar menjadi indah sepertimu, aku berhenti menghela langkah sejenak tuk berfikir bagaimana kau mempoles sayap-sayapmu” bisik parau angin sepoi yang membuatnya terkejut.
            Berdalih hati yang penasaran senja merebahkan dirinya, diujung pegunungan dengan mata merona menyaksikan sang bayu mempoles diri. Dibalik tumpukan bukit yang mencakar langit. Dia Mempercantik tiupannya, mempoles perlahan dengan warna yang dipinjamnya dari pelangi, namun nihil. Bayu akan selamanya tak terlihat. Hanya perasaan yang damai dan sendu yang dapat melihatnya. Itupun hanya sekilah. Dan sang bayu akan terlihat seperti angin topan ketika sutradara alam menghendaki dan memainkan hati dan jiwanya
            Warna jingga dengan kesenduhaanya kembali kepekarangan, mengabdi dengan anggun untuk menuai tugasnya. Namun wajahnya masih sayu, masih berfikir keras dibalik kedamaian warna jingganya. Bukan angin yang membuatnya kawatir karena gagal mempoles seperti dirinya. Entahlah mungkin sejuta makluk tuhan yang membuat siluet jingga itu berdiam diri.
            “ jika Fajar menungguku untuk datang memeluknya, menyapa dengan senyum merekah. Lebih baik aku diam perlahan diam, bukan sembunyi. Namun berdoa agar Fajar cepat menyapa merangkai embun dimata dan tersenyum untuk mereka” ah, ternyata titik temu Fajar yang mengembunkan mutiara dimatanya.
            Bertanya kembali apa benar Senja menanti fajar? Menunggu dengan lilitan rayuan rembulan yang membuatnya terpesona. Hingga pada suatu saat embun yang siap menguntai terhalang Fajar yang bimbang. Rembulan begitu terang dibandingkan dengan Fajar. Menbuat Senja berhati-hati ketika meninggalkan pekarangan jingganya. Takut, akan rayuan bulan yang membuat hatinya bergetar sama ketika senja menebut fajar dalam hatinya. Getaran yang tak terkalahkan dari dentuman jarum jam.
            Setiap detiknya senja memendam kekawatiran akan hatinya, akan ujung rasa yang mencap indah. Takut terjatuh dan bukan Fajar yang mengusap darah disayap jingganya. Tkut, jika nanti Senja ditanya oleh sang waktu. Kenapa menunggu Fajar terlalu lama, sedangkan ada Rembulan yang begitu indah, begitu mempesona hingga bintang geintang ingin mendekapnya. Namun, kau Senja kenapa menunggu Fajar yang belum tentu kau tahu rupanya, belum tahu kedatangannya dan tidak akan pernah tahu itu kapan. Karena kalian berbeda. Untaian nasehat dari waktu yang Senja ingat beberapa waktu ketika senja tertidur ditemani rembulan. Namun waktu membuat mutiara yang mengendap dikelopak mata Senja mengering. Menimbulkan goncangan pada hati yang berdesir yang tak lagi indah kembali mempesona.
            “karena aku menyukainya entah apa alasanya. Mungkin karena Fajar terlalu sopan, menunggu dengan sabar ketika bidadari mempoles warna hitam langit. Dia begitu piawai merangkai embun dan sangat sederhana. Namun, entahlah aku apa yang membuatku cinya aku menginginkanya” sahutnya dengan senyum diujung lesung manisnya

            “ aku akan menunggunya” tukasnya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar