Saat itu senja
menguntai indah mengayunkan sayapnya menjadi pesona sore hari. Langit semakin
pekat begitu pula senja, hanya siluet kehidupan yang akan kembali berputar.
Senja kembali mewarnai dirinya untuk kuasan keseratus kali supaya terlihat
anggun dan menawan. Namun, keanggunan itu tertutup dengan jingga merah yang
semakin memudar. Menerawang hingga senja jatuh memeluk bumi.
“ kedengarannya sayup bayu mulai tak
mengusik, kemana gerangan?” bisik senja ditengah haru biru yang akan membawanya
pergi.
“ aku merajut tiupanku agar menjadi
indah sepertimu, aku berhenti menghela langkah sejenak tuk berfikir bagaimana
kau mempoles sayap-sayapmu” bisik parau angin sepoi yang membuatnya terkejut.
Berdalih hati yang penasaran senja
merebahkan dirinya, diujung pegunungan dengan mata merona menyaksikan sang bayu
mempoles diri. Dibalik tumpukan bukit yang mencakar langit. Dia Mempercantik
tiupannya, mempoles perlahan dengan warna yang dipinjamnya dari pelangi, namun
nihil. Bayu akan selamanya tak terlihat. Hanya perasaan yang damai dan sendu
yang dapat melihatnya. Itupun hanya sekilah. Dan sang bayu akan terlihat
seperti angin topan ketika sutradara alam menghendaki dan memainkan hati dan
jiwanya
Warna jingga dengan kesenduhaanya kembali
kepekarangan, mengabdi dengan anggun untuk menuai tugasnya. Namun wajahnya
masih sayu, masih berfikir keras dibalik kedamaian warna jingganya. Bukan angin
yang membuatnya kawatir karena gagal mempoles seperti dirinya. Entahlah mungkin
sejuta makluk tuhan yang membuat siluet jingga itu berdiam diri.
“ jika Fajar menungguku untuk datang
memeluknya, menyapa dengan senyum merekah. Lebih baik aku diam perlahan diam,
bukan sembunyi. Namun berdoa agar Fajar cepat menyapa merangkai embun dimata
dan tersenyum untuk mereka” ah, ternyata titik temu Fajar yang mengembunkan
mutiara dimatanya.
Bertanya kembali apa benar Senja
menanti fajar? Menunggu dengan lilitan rayuan rembulan yang membuatnya
terpesona. Hingga pada suatu saat embun yang siap menguntai terhalang Fajar
yang bimbang. Rembulan begitu terang dibandingkan dengan Fajar. Menbuat Senja
berhati-hati ketika meninggalkan pekarangan jingganya. Takut, akan rayuan bulan
yang membuat hatinya bergetar sama ketika senja menebut fajar dalam hatinya. Getaran
yang tak terkalahkan dari dentuman jarum jam.
Setiap detiknya senja memendam
kekawatiran akan hatinya, akan ujung rasa yang mencap indah. Takut terjatuh dan
bukan Fajar yang mengusap darah disayap jingganya. Tkut, jika nanti Senja
ditanya oleh sang waktu. Kenapa menunggu Fajar terlalu lama, sedangkan ada
Rembulan yang begitu indah, begitu mempesona hingga bintang geintang ingin
mendekapnya. Namun, kau Senja kenapa menunggu Fajar yang belum tentu kau tahu
rupanya, belum tahu kedatangannya dan tidak akan pernah tahu itu kapan. Karena kalian
berbeda. Untaian nasehat dari waktu yang Senja ingat beberapa waktu ketika
senja tertidur ditemani rembulan. Namun waktu membuat mutiara yang mengendap
dikelopak mata Senja mengering. Menimbulkan goncangan pada hati yang berdesir
yang tak lagi indah kembali mempesona.
“karena aku menyukainya entah apa
alasanya. Mungkin karena Fajar terlalu sopan, menunggu dengan sabar ketika
bidadari mempoles warna hitam langit. Dia begitu piawai merangkai embun dan
sangat sederhana. Namun, entahlah aku apa yang membuatku cinya aku menginginkanya” sahutnya dengan senyum
diujung lesung manisnya
“ aku akan menunggunya” tukasnya
kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar