Kamis, 07 Mei 2015

Pohon

Terjerat 1000 pohon
“ mama...” teriakku dalam mobil yang membawaku pulang kerumah setelah seharian dikampus.
“ eh kamu ini kenapa sih teriak aja, keluar dulu dari mobil salam dulu gitu, teriak-teriak kenapa sih” mama ku tidak mau kalah dengan ku, dengan teriakan yang menggetarkan ban mobilku mungkin.
“ mama..mama..mama.. “ setelah keluar dari mobil teriaku kembali mengangetkan bundaku tersayang.
“kamu kenapa sih sell..” mama bertanya dengan heran.
 “ kok knapa ? mama yang kenapa itu kenapa banyak bibit pohon diteras kan jadinya mobilku gak bisa masuk”. Dengan nada kesal ku berlalu meninggalkan mama menuju kamar ku.
“ kok kamu kaget itukan buat asesoris resepsi pernikahan kamu lusa. Kan Tedi yang pesen katanya kamu setuju” mama menhentikan ku dan aku mulai sadar
 “ astaga mama. Selli lupa.”.
***
Pelupa adalah penyakit yang tidak bisa aku hilangkan, untung saja senja dan fajar datangnya tidak sama bisa jadi aku lupa mana yang senja mana yang farar.
 “ beb makan yuk “ ajak tedi tunanganku. Kami menjalin hubungan baru 2 bulan tapi orang tua kami memutuskan agar kami menikah. Sama-sama pengambil jururan Biologi murni dikampus yang sama dan dikelas yang sama.
 “ kamu makan dulu dah aku mau ke arboretum, lihat bibit bohon yang bagus besok ada yang mau ambil untuk penanaman sejuta pohon” jawabku dengan melangkah meninggalkanya, begitulah kami berhubungan dan berkenalan dengan sama mencintai lingkungan menurutku itu hal yang bagus.
“ oke dah jangan capek-capek nanti sakit baru dah nanti kambuh manjanya” candanya dengn melambaikan tangan padaku. Dia adalah orang ke 2 setelah mama yang kawatir banget dengan kondisiku kesehatanku. Aku kembali dengan aktifitasku memerikasa berjuta pohon yang aku banggakan setidakknya bumi akan tersenyum dengan penanaman ini.
“ mbk selli ya?” suara parau itu mengagetkan lamunanku.
“ iya, dengan ibu ida untuk penanaman sejuta pohon?” tanya ku kembali.
“ iya mbk.”.
“ oh ini buk uangnya bisa dtranfer barangnya bisa dawa besok” tukasku engan membubuhkan sedikit senyum.
***
22 April 2014 hari dimana aku menjadi seorang istri dan menjadi setitik senjum untuk bumiku.
“ beb, asesorisnya udadibungkus rapi kan? Tanahnya jangan sampai tumpah lo” tedi mengingakan kembali asesoris pernikahan kami yang berupa bibit tanaman.
 “ beres kok semua” aku tersenyum bahagia melihat senyumanya. Yah hari itupun tiba para tamu berdatangan dengan kadonya tidak kalah teman-teman angkatan Biologi dikampus datang dengan semarak candanya. Kami tersenyum bahagia meskipun tidak tahu akan menjadi apa bibit muda yang akan melindungi bumi itu jika sampai dirumah mereka. Yang kami tahu mereka membawanya dengan hati-hati dan senyum bahagia.
“Selamat jalan pohon kecilku lindungi bumiku” mungkin itu doa singkat kami Selli dan Tedi yang berbahadia dengan senyuman bumi dihatinya”


Kesunyian, 01 02 2014
https://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=idhttps://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar