Terjerat 1000 pohon
“
mama...” teriakku dalam mobil yang membawaku pulang kerumah setelah seharian
dikampus.
“
eh kamu ini kenapa sih teriak aja, keluar dulu dari mobil salam dulu gitu,
teriak-teriak kenapa sih” mama ku tidak mau kalah dengan ku, dengan teriakan
yang menggetarkan ban mobilku mungkin.
“
mama..mama..mama.. “ setelah keluar dari mobil teriaku kembali mengangetkan
bundaku tersayang.
“kamu
kenapa sih sell..” mama bertanya dengan heran.
“ kok knapa ? mama yang kenapa itu kenapa
banyak bibit pohon diteras kan jadinya mobilku gak bisa masuk”. Dengan nada
kesal ku berlalu meninggalkan mama menuju kamar ku.
“
kok kamu kaget itukan buat asesoris resepsi pernikahan kamu lusa. Kan Tedi yang
pesen katanya kamu setuju” mama menhentikan ku dan aku mulai sadar
“ astaga mama. Selli lupa.”.
***
Pelupa
adalah penyakit yang tidak bisa aku hilangkan, untung saja senja dan fajar
datangnya tidak sama bisa jadi aku lupa mana yang senja mana yang farar.
“ beb makan yuk “ ajak tedi tunanganku. Kami
menjalin hubungan baru 2 bulan tapi orang tua kami memutuskan agar kami
menikah. Sama-sama pengambil jururan Biologi murni dikampus yang sama dan
dikelas yang sama.
“ kamu makan dulu dah aku mau ke arboretum,
lihat bibit bohon yang bagus besok ada yang mau ambil untuk penanaman sejuta
pohon” jawabku dengan melangkah meninggalkanya, begitulah kami berhubungan dan
berkenalan dengan sama mencintai lingkungan menurutku itu hal yang bagus.
“
oke dah jangan capek-capek nanti sakit baru dah nanti kambuh manjanya” candanya
dengn melambaikan tangan padaku. Dia adalah orang ke 2 setelah mama yang
kawatir banget dengan kondisiku kesehatanku. Aku kembali dengan aktifitasku
memerikasa berjuta pohon yang aku banggakan setidakknya bumi akan tersenyum
dengan penanaman ini.
“
mbk selli ya?” suara parau itu mengagetkan lamunanku.
“
iya, dengan ibu ida untuk penanaman sejuta pohon?” tanya ku kembali.
“
iya mbk.”.
“
oh ini buk uangnya bisa dtranfer barangnya bisa dawa besok” tukasku engan
membubuhkan sedikit senyum.
***
22
April 2014 hari dimana aku menjadi seorang istri dan menjadi setitik senjum
untuk bumiku.
“
beb, asesorisnya udadibungkus rapi kan? Tanahnya jangan sampai tumpah lo” tedi
mengingakan kembali asesoris pernikahan kami yang berupa bibit tanaman.
“ beres kok semua” aku tersenyum bahagia
melihat senyumanya. Yah hari itupun tiba para tamu berdatangan dengan kadonya
tidak kalah teman-teman angkatan Biologi dikampus datang dengan semarak
candanya. Kami tersenyum bahagia meskipun tidak tahu akan menjadi apa bibit
muda yang akan melindungi bumi itu jika sampai dirumah mereka. Yang kami tahu
mereka membawanya dengan hati-hati dan senyum bahagia.
“Selamat
jalan pohon kecilku lindungi bumiku” mungkin itu doa singkat kami Selli dan
Tedi yang berbahadia dengan senyuman bumi dihatinya”
Kesunyian,
01 02 2014
https://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=idhttps://plus.google.com/109841183586372820366/posts?hl=id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar